.:||[+mmbanget's blog on pReNsTer..+]||:.

August 15th, 2005

Pengorbanan…

Posted by mmbanget in made by others
Publikasi: 21/01/2004 10:21 WIB

eramuslim
- Musim Haji. Berita di surat kabar dan media elektronika saat ini
dipenuhi berita seputar haji. Ya Rabb, aku salah satu yang mendamba
undangan-Mu, begitu juga sahabat-sahabatku yang sedang membaca artikel
ini.. Engkau Maha Tahu waktu yang terbaik bagi kami untuk berada di
tanah suci-Mu. Aamiin”.

Sejenak memoriku melayang melintasi
ruang waktu hingga ke 10 tahun yang lalu. Masih sangat lekat di
ingatanku dan adik-adik ketika mama dan papa membagi jadwal piket kami
mengantar telur ayam kampung hasil ternak sendiri ke warung-warung
tetangga. Dalam satu minggu paling hanya ada sekitar 25 butir karena
jumlah ayam kampung yang diternakkan papa jumlahnya juga ga banyak.
Papa mama selalu berpesan, “Semoga keikhlasan kalian berjualan telur
ini akan mengantarkan papa dan mama menjadi haji mabrur”.

Ah,
kalau dihitung-dihitung, sangat mustahil bisa memenuhi ongkos haji
dalam jangka waktu yang pendek. Satu telur dijual seharga 400 rupiah,
jika satu bulan ada 100 telur, baru terkumpul 40 ribu rupiah, setahun
480 ribu rupiah, sementara ongkos haji pada saat itu sekitar 7 juta
rupiah (aku ga begitu ingat). Akan butuh waktu 15 tahun untuk
menggenapinya karena papa dan mama sama sekali tidak mau menabung dari
hasil gaji. Idealisme mereka berkata, “uang itu tidak bisa dipastikan
bersih” yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya.

Tiba-tiba
ujian datang, ayam-ayam kena virus yang tak mungkin disembuhkan. Satu
per satu ayam menunggu ajal. Aku dan adik-adik sedih sekali. Waktu
menunggu pergi haji tidak lagi 15 tahun tapi mungkin lebih dan belum
tentu usia papa dan mama bisa menjangkaunya. Aku hanya bisa berdoa dan
menghibur papa kalau Allah pasti mengganti dengan yang lebih baik. Yah,
papa sempat sedih untuk beberapa hari.

Subhanallah Allah tak
pernah ingkar janji, tahun itu juga, papa dipercaya oleh kantornya
menjadi pimpro sebuah proyek (papaku pegawai negeri biasa). Kami
gembira sekali karena keinginan orang tua untuk pergi haji pasti bisa
cepat terlaksana. Bukankah seorang pimpro bakal punya duit yang banyak
? Tidak harus menunggu 15 tahun. Namun, lagi-lagi aku tidak mengerti
dengan idealisme papa yang “tidak ada perubahan”. Jadi pimpro atau
tidak, belanjaku tetap saja seperti dulu, belanja untuk rumah tangga
nyaris tidak ada peningkatan. Kalaupun ada honor dari proyek itu, hanya
untuk beli makanan atau pergi ke restoran makan bareng. Kata papa, uang
proyek harus dipakai sesuai anggaran, bukan untuk foya-foya karena hak
papa hanya dari honor. Lebih fantastis lagi, di laporan akhir tahun ada
uang yang bersisa. Semua uang itu dikembalikan ke kantor pusat! Padahal
yang aku tahu tak pernah ada kejadian dana bersisa dikembalikan,
biasanya dibagi untuk semua tim proyek.

Aku sempat protes
(waktu itu bekal ilmuku belum cukup), begitu juga dengan semua bawahan
papa di proyek, mereka menuntut bagian. Tapi, sedikitpun papa tidak
bergeming. Menurut papa, proyek itu di bawah tanggungjawabnya dan
beliau berhak memutuskan apapun yang dirasa baik. Aku bangga papaku
punya prinsip dan idealisme yang langka dimiliki orang lain tapi di
sisi lain, aku sangat kasihan karena telpon teror dari tim proyek mulai
datang silih berganti.

Kekuatan satu-satunya waktu itu adalah
doa, agar Allah melapangkan segala urusan. Masalah ayam-ayam yang mati
dan habis jadi terlupakan untuk sesaat, dan otomatis isu pergi haji
juga terkubur. Ya Rabb, ijinkan aku memuji indahnya perjalanan hidup
yang Engkau rancang untuk hamba-hamba-Mu hingga di balik cobaan selalu
ada kebahagiaan.

Di sore itu, datang seorang kolega papa
beserta isterinya. Beliau salah seorang direksi perusahaan pemasok
peralatan di proyek. Ada kekhawatiran karena teror yang lumayan heboh
dan tidak biasanya beliau ke rumah, jangan-jangan beliau juga mau
complain. Silaturahmi berjalan biasa-biasa saja, hangat.. layaknya dua
orang sahabat lagi bertukar cerita tentang kehidupan. Akhirnya obrolan
berlanjut dengan rencana beliau pergi haji. Dan tak dapat
disembunyikan, wajah papa yang tegar meredup tiba-tiba (ah.. papa,
jarang sekali aku melihatmu sesedih itu).

Papa akhirnya
bercerita tentang tabungan haji yang masih sedikit dan ayam-ayam yang
mati. Subhanalllaah tanpa diduga sama sekali, beliau menerangkan
maksudnya ke rumah untuk mengajak papa dan mama berangkat haji bareng
(mama dan papa diongkosin !!).

Muliakan Bapak itu dan
keluarganya ya Rabb, mudahkan rezekinya. Ada beberapa alasan yang
dikemukakan beliau saat itu tapi mungkin lebih baik tak ditulis di sini
agar keikhlasan beliau tetap terjaga. Intinya, ini adalah hadiah dari
Allah karena pengorbanan seorang hamba-Nya untuk menjaga diri dari
godaan dunia (semoga). Tahun itu tahun 1993, papa dan mamaku berangkat
haji atas undangan Allah, syari’atnya lewat seorang hamba yang pemurah.
Mungkin karena kejujuran papaku … Wallaahu a’lam.

Lewat media ini
juga, aku ingin berterimakasih kepada redaksi eramuslim yang telah
banyak merubah paradigma berpikirku jadi lebih positif dalam menjalani
setiap episode hidup.. Doaku juga untuk guru-guru dan sahabat-sahabat
yang setia mendampingi pembelajaranku yang semakin hari semakin
variatif soal-soalnya. I love u all! Sudilah semua mendoakan orang
tuaku agar dipanggil dalam keadaan husnul khatimah. Selamat berjuang !!

farah_adibah@yahoo.com

August 15th, 2005

Begitu Cepat Engkau Menggantinya, Ya Allah

Posted by mmbanget in made by others
Publikasi: 27/05/2003 08:09 WIB

eramuslim - Udara begitu segar di pagi hari, apalagi semalaman hujan. Saya merapatkan sweater yang diberikan kakak sebelum pergi. Hup… terlompati sudah genangan air untuk ke dua kalinya. Stasiun Bogor masih lengang, Alhamdulillah,
berarti saya tidak usah berjuang hanya untuk bisa terangkut. Saya duduk
dengan tenang di gerbong belakang yang sudah terisi sebagian. Hari
masih muda, tetapi para pedagang asongan, peminta-minta bahkan pencari
sumbangan sudah berseliweran dengan suara-suara khas mereka.

Saya
mulai mengamati, mencari vitamin hati. Seorang nenek terhuyung-huyung
mengedarkan mangkuk berharap dermawan memberi uang belas kasihan,
sekelompok pemuda tuna netra yang hampir semua sepatunya robek-robek
mematung menunggu sang nenek pindah ke gerbong lain. Ada seorang
perempuan yang terus menerus menggumamkan "Lapar… Lapar.." di pojok
gerbong, pakaiannya lusuh dan yang jelas dia sepertinya kurang waras.
Kini giliran bocah laki-laki yang menyapu lantai kereta, hampir sekujur
tubuhnya kudisan, mata yang merah, dan kepala diperban, membentak para
penumpang jika tidak memberinya uang. Sebenarnya saya ingin sekali
mengulurkan tangan seperti orang lain, jika saja dompet yang berisi
recehan itu tidak tertinggal di kamar. Saya memang selalu mencari
recehan sisa kembalian untuk hal-hal seperti ini. Hingga setiap kali
tangan atau wadah tempat belas kasih itu datang saya menyambutnya
dengan senyuman dan kata maaf.

Kereta berhenti di Stasiun
Cilebut, ketika seorang bocah laki-laki, berpeci, mengenakan seragam
putih hijau, naik. Dengan gugupnya ia berdiri dan sekedar berpidato,
intinya meminta para dermawan saling tolong menolong dalam kebenaran
dengan bershadaqah untuk panti asuhan yang ditinggalinya. Bulir-bulir
keringat menetes dari dahinya, sedangkan tangan mungil itu gemetar,
belum lagi kata-kata yang keluar dari awal sudah putus-putus. Saya
mengamatinya, mungkin pertama kalinya untuk bocah itu melakukan hal
ini. Iba hati saya, ketika dia mengedarkan kotak amal, refleks saya
membuka dompet dan memasukkan uangnya ke dalam kotak. Tak
disangka-sangka dia membungkukkan badan dan tak henti-henti mengucap
"terima kasih kak, terima kasih banyak…". Dia melakukannya agak lama.
Saya jadi rikuh ditatap banyak orang.

Sampai di kamar, saya baru
tahu kenapa bocah tadi begitu semangat berterima kasih. Uang selembar
yang diberikan kakak dengan embel-embel "Dik, pergunakan uang ini
sebaik-baiknya sampai akhir bulan … " itulah yang saya masukkan ke
dalam kotak, sedangkan selembar uang 500-an yang saya maksudkan untuk
berinfak masih ada di dompet. "Innalillahii.." bisik saya
berulang-ulang. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Yang saya patrikan
saat itu adalah "Pasti ada hikmah… pasti ada hikmahnya".

Siang,
Jam menunjukkan jarum pendeknya diangka 2. Saya pilih shirah nabawiyah
untuk menentramkan gemuruh hati. Kisah-kisah kehidupan nabi Al-Musthafa
begitu sempurna. Lapar yang saat itu saya rasakan belum seberapa
dibandingkan dengan Lapar yang dialami Nabi, keluarganya dan para
sahabat. Betapa luar biasanya mereka dalam hal zuhud. Saya
tergugu ketika membaca kisah suatu hari Umar R.A bertemu dengan
sahabatnya Jabir bin Abdullah dan menemukan sepotong daging
ditangannya. Kemudian umar bertanya "Apa itu Jabir", "Aku ingin makan
daging, lalu saya membelinya" begitu pengakuan jabir. Selanjutnya Umar
pun bertutur "Apakah setiap yang kamu inginkan kamu usahakan
membelinya? Apakah kamu tidak takut ayat ini, "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja)" (QS Al-Ahqaf: 20).

Saya
sering lebih memilih untuk membeli buku dibandingkan membeli kupon dari
pencari dana kegiatan amal. Saya bahkan dengan hati seringan awan
menambah koleksi kerudung daripada menambah investasi akhirat dengan
memberi sedekah nenek buta yang setiap hari terlewati. Betapa dungunya
saya ketika seorang tetangga datang ke rumah meminta sumbangan untuk
membangun rumahnya yang ambruk, saya hanya meminta maaf karena memberi
alakadarnya, padahal besoknya saya sibuk memilih-milih sepatu di pusat
pertokoan. Astaghfirullah…., air mata menetes lagi.

Maghrib, baru saja terlewati, sementara perut dari tadi hanya diisi air. Subhanallah,
apakah ini yang dirasakan mereka yang kelaparan setiap harinya. Perut
melilit, bersuara aneh dan sesekali perih. Ingin rasanya mengetuk pintu
kamar sebelah, tapi saya tahu sekarang bulan sudah tua. Dan saya ingat
kemarin pagi para pemilik kamar sudah berkoar-koar tidak karuan tentang
kerontangnya isi dompet mereka. Jika saja uang tadi tidak tertukar,
jika saja saya lebih berhati-hati, andai saya tadi tertidur,…. Astaghfirullahaladzim….

Saya mengingat banyak hal untuk menghibur hati, diantaranya janji Allah yang disampaikan ustadz di pengajian minggu yang lalu. "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya"
(QS. Saba: 39). Lirih mulut berucap "Ya Rabb, saya ikhlas dengan
skenario ini, mudah-mudahan Engkau mengganti dengan yang lebih baik,
karena hamba yakin Engkau maha kaya dan tidak akan berkurang sedikitpun
karena permohonan mahluknya".

Adzan Isya berkumandang, waktu
seperti cepat bergulir. Belum selesai melipat mukena, pintu kamar
diketuk "Mba… ayo ke tempat makan, mamanya Ayu baru datang dan
membawakan makan malam buat kita semua, cepetan nanti keabisan". Itu
pasti teman sebelah kamar, suaranya khas. Saya tersenyum, terima kasih
ya Allah. Di ruang makan, semuanya nampak bergembira, ibunya Ayu sibuk
mempersilahkan mereka, padahal untuk makanan gratis, tanpa
dipersilahkan pun semangat kami tetap semangat 45. Lagi asyik-asyiknya
menikmati berkah, Ayu tersenyum ke arah saya dan berujar, "Eh mbak,
beasiswanya sudah keluar, tadi Ayu liat di kampus. Besok uangnya udah
bisa diambil".

Dan hati saya pun luruh. Begitu cepat Engkau menggantinya Ya Allah. (Sebuah kenangan, mahabbah12@yahoo.com)

August 15th, 2005

Ada Yang Lebih Tegar

Posted by mmbanget in made by others
Publikasi: 10/10/2002 07:44 WIB

eramuslim
- Namanya Hambali, 25 tahun, kakak dari enam adik itu sudah tiga hari
ini selalu terlambat datang ke masjid untuk sholat shubuh berjama�ah,
namun meski terburu-buru ia masih menyempatkan diri menjadi masbuk atau
bahkan setelah jama�ah lainnya sudah mengucapkan salam. Tak apalah,
katanya, yang penting ia dan adik-adiknya tak absen ke masjid untuk
berjama�ah. Sebelumnya ia tak pernah begitu, wajar karena empat hari
yang lalu, dini hari sekitar pukul 03.00 ayahnya yang tukang angkut
sampah di perumahan sekitar tempatku tinggal, meninggal dunia. Makanya,
kalau dulu ada yang membantunya membangunkan adik-adiknya untuk
bersiap-siap shubuh di masjid, kini ia harus melakukannya sendiri.
Pasalnya, dua belas tahun lalu, ibunya telah terlebih dulu meninggalkan
mereka saat melahirkan si kecil, Salma.

Hambali dan semua
adiknya, memang bersedih ketika ayah mereka meninggalkan mereka saat
tengah terlelap. Tak dinyana, perjumpaan sesaat sebelum tidur semalam
adalah terakhir kali mereka bercanda dengan ayah mereka. Namun Hambali
tetap tegar, sebagai kakak tertua dari enam adiknya, ia merasa harus
menunjukkan bahwa bagaimanapun kesedihan melanda, mereka tak bolah
larut. Tetap tegak menatap hari esok, sambil berpikir bagaimana
berjalan tanpa pegangan kokoh yang keduanya telah hilang sekarang,
tanpa bimbingan orangtua, tanpa ada lagi tempat mengadu, apalagi minta
uang saku sekolah bagi adik-adiknya.

Pagi ini di depan gang
sambil menunggu kendaraan, aku bertemu Hambali. Ia sudah kembali
bekerja �menjadi pesuruh di sebuah lembaga tinggi negara-. Ia tersenyum
melihatku, padahal masih ada kegetiran didadaku merenungi nasib Hambali
dan adik-adiknya. Namun pagi itu Hambali memberi pelajaran terbaik
buatku ketika ia mengatakan, �Allah menyayangi anak-anak yatim, kalau
dulu sewaktu ibu meninggal, masih ada bapak yang menyayangi. Saya yakin
selama ini Allah sudah menyayangi kami. Tapi kini, keyakinan saya
bertambah bahwa Allah semakin sayang kepada kami. Cara Dia mengambil
bapak dari tengah-tengah kami, menumbuhkan keyakinan didiri kami kalau
Allah ingin lebih total mencurahkan cinta dan kasih sayangnya, tinggal
bagaimana kami tetap tawakal dan bersyukur atas segala kehendak-Nya,
seraya bersegera membalas cinta-Nya�.

Subhanallaah � aku
tak menyangka Allah berikan kekuatan hati melebihi ketegaran batu
karang di lautan, lebih kokoh dari gunung-gunung yang berdiri menjulang
kepada seorang anak yatim piatu. Nampaknya, keyakinannya terbukti,
bahwa kasih sayang Allah tengah tercurah kepada mereka, Hambali dan
semua adiknya. Saat itu juga aku menengok ke dalam hati ini yang begitu
kerdil, cengeng, sering tidak kuat ketika menerima cobaan hidup, dan
terkadang memaki-maki Allah menganggap Ia tak adil memberikan
keputusan-Nya kepadaku. Padahal, aku disampingku masih ada dua orangtua
yang sehat dan bugar, keadaan ekonomi keluargaku pun masih lebih baik
dari Hambali.

Nampaknya falsafah air semakin ditekan kebawah
semakin besar dorongannya keatas, menjadi pelajaran tersendiri buatku.
Hambali, juga semua anak-anak yatim di negeri ini jauh lebih tegar,
hati mereka sekokoh gunung, justru karena setiap hari mereka ditempa
cobaan yang tak henti-hentinya, sehingga mereka menjadi terbiasa
menghadapi semua cobaan, ujian hidup seberat apapun. Jika anak-anak
yatim itu melihat kecengenganku ketika tertimpa cobaan kecil saja
misalnya, mungkin mereka akan tertawa terbahak-bahak dan menganggap aku
seorang yang tidak bakal mampu bersaing melawan kerasnya kehidupan.

Padahal
dengan semua kelebihan yang kumiliki, seharusnya aku jauh lebih kuat
dari mereka, jauh lebih tegar menghadapi cobaan hidup. Toh aku masih
punya tempat berpegang ketika merasa tak kuat, atau setidaknya kedua
orangtuaku akan memapahku seraya membangunkanku ketika aku jatuh. Lagi
pula, seharusnya juga aku bisa menjadi kaki-kaki kokoh yang membantu
Hambali dan anak-anak yatim itu tegak berdiri. Dengan kelebihan yang
kupunya, seharusnya kuberikan sebagiannya kepada mereka, agar senyum
keceriaan menikmati hidup tak hanya milik orang-orang berpunya.

Lalu
apa artinya sholatku selama ini jika keberadaanku tak berarti apapun
bagi anak-anak yatim dan orang miskin di sekitarku. Padahal Allah
menempatkan urutan diatas sebelum memperbaiki sholat seorang mukmin
adalah memperhatikan anak-anak yatim dan orang miskin (QS. Al Maa�uun).

Tentu
bukan hanya Hambali dan Salma anak yatim di negeri ini, tengoklah
kesamping kanan dan kiri kita, masih banyak anak-anak yang tak dapat
menikmati sarapan pagi, sementara kita santai menghabiskan uang untuk
makan di tempat mahal. Tidak sedikit dari mereka yang tak memiliki
pakaian layak, sementara kita sibuk setiap hari membeli model terbaru
untuk penampilan kita. Kita merasa puas dan senang jika bisa mengajak
beberapa teman untuk makan bersama, tapi tak pernah bergetar
menyaksikan mulut-mulut ternganga yang memperhatikan kita dibalik kaca
restoran. Padahal sesungguhnya saat itu juga, kita tengah
mengesampingkan kunci surga yang tergeletak dihadapan kita. Tak
semestinya, kita membiarkan kunci surga itu terbuang begitu saja atau
diambil orang-orang selain kita yang memang berlomba mendapatkannya.

Hmmm,
aku tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Hambali, Salma dan seluruh
anak-anak yatim di negeri ini di bulan ramadhan yang akan segera tiba
ini. Karena bukankah salah satu kebahagiaan ramadhan adalah sahur dan
berbuka bersama dengan seluruh keluarga. Mungkinkah masih ada keceriaan
di hari raya nanti bagi mereka, saat tak ada lagi pakaian baru dan
makanan enak di rumah mereka, ketika tak ada lagi tangan-tangan hangat
yang harus mereka kecup di hari fitri itu. Jawabnya ada pada diri kita,
yang Allah titipkan rezeki mereka pada sebagian dari harta yang kita
miliki. Kalaulah si Anak Yatim Baginda Rasulullah begitu memuliakan
anak-anak yatim, kenapa kita yang mengaku sebagai pengikutnya tidak
meniru? Wallahu�a�lam bishshowaab (Bayu Gautama)

August 15th, 2005

Anak-Anak Dengan Bau Matahari

Posted by mmbanget in made by others
Publikasi: 13/11/2003 10:43 WIB

eramuslim
- Laki-laki kecil itu berusia sekitar 8 tahun. Tubuhnya kecil. Tapi dia
tampan dan berkulit bersih. Dia mengenakan baju yang kelihatannya
branded, hanya saja lusuh. Menggendong ransel dan memakai jam di tangan
kanan. Meskipun ia bau matahari ada yang menarik dari dirinya. Matanya
bersinar cerdas. Dan saya langsung jatuh cinta. Saat ia menyanyikan
lagu dengan diiringi musik dari botol aqua kecil yang diisi dengan
sedikit beras. Dia tak menyanyikan lagu dangdut atau lagu pop yang
sedang ngetrend lainnya. Ia juga tidak menyanyikan lagu-lagu khas
pengamen jalanan yang biasa dibawakan para pengamen. Ia menyanyikan
lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Sebuah lagu tentang
keindahan alam yang tak lagi saya ingat syairnya. Dengan suara yang
terlantun jernih, tidak fals.

Saat selesai satu lagu dan kami meminta tambahan lagu,
dia
langsung bernyanyi kembali tanpa membantah. Ia juga menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Ia tidak bersekolah karena
tidak punya uang, tetapi ia belajar sama ayah, demikian jawabnya
terhadap pertanyaan tentang sekolah.

Tiga hari kemudian saya
masih selalu bertemu dengannya. Di arena peringatan Hari Anak Nasional
di Taman Ismail Marzuki, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian
Jakarta dan saya menjadi salah satu panitianya. Setiap hari ia
menghadiri pameran, ikut bermain dan berlomba di semua acara yang
diselenggarakan secara gratis itu. Satu hal yang paling menarik
perhatiannya adalah bazaar buku. Ada satu buku pengetahuan popular
dengan gambar warna-warni yang sangat menarik perhatiannnya. Begitu
ingin dia memiliki buku itu, tetapi sayang harga buku itu cukup mahal.

Akhirnya, dia hanya bisa memandangi dan membuka-buka,
berlama-lama di depan stand sepanjang pameran berlangsung. Namun, ternyata Allah sayang padanya.

Pada
hari terakhir, ada lomba spontanitas dengan hadiah buku-buku
pengetahuan ppopular itu. Dan dia, lelaki kecil itu, memenangkannya.
Sampai malam hari, saat kami berkemas, dia masih datang, membawa tas
kresek berisi buku-buku. Dengan ceria dia bermain, bercerita dan
bergaul tanpa takut. Menjawab setiap pertanyaan dengan lincah. Bahkan
dengan bangga dia bercerita, kalau di rumah ia punya buku tentang
Albert Einstein. Si kecil itu, Waliyan namanya.

***

Azan
isya baru saja berlalu. Kawasan Tanah Abang masih ramai saat saya
menaiki PPD reguler 916. Masih ada dua sosok kecil, kotor, tak beralas
kaki, dan bau yang menghuni bangku-bangku itu saat para penumpang masuk.

Sosok
yang lebih besar, perempuan kecil berkuncir kuda, bangkit terlebih
dahulu sambil membangunkan partnernya yang sepertinya adalah adiknya.
Si cowok kecil bangun dengan malas, namun tidak punya pilihan lain
selain berdiri dan bersiap ‘bekerja’ kembali.

Mereka minggir ke
belakang, sambil tertawa-tawa. Ketika penumpang telah penuh, mereka
segera beraksi. “Di Pondok keciiil, di atas bukit….” Syair itu mengalun
cempreng dari mulut rambut merah itu. Si kecil bahkan berkali-kali
terpejam, nampak sekali masih sangat ngantuk, namun tetap terus
bernyanyi karena kakaknya menyenggolnya berulang kali. Matanya baru
terbuka lebar, saat seorang penumpang mengangsurkan selembar lima
ratu-an perak, yang segera ditunjukkannya dengan gembira pada kakaknya.
Dia seakan belum pernah menerima uang ‘lima ratus perak’ ketika ngamen.

Saya
ingin menanyai mereka tentang banyak hal, tapi situasi tak
memungkinkan. Yang saya dengar dari percakapan mereka adalah,
perbincangan dengan kata-kata yang cukup jorok dan selingan tentang
makanan dan lain-lain. Tak ada tentang buku, sekolah, belajar dan
sejenisnya.

***

Banyak hal yang membuat mereka sama.
Pertama, mereka sama-sama bau matahari karena setiap hari mandi
matahari. Kedua, mereka memiliki kepolosan dan potensi kecerdasan yang
relatif sama.

Mungkin ada sesuatu yang bisa kita lakukan, untuk
tetap menjaga keceriaan mereka. Menjaga fitrah dan kepolosan mereka.
Mereka memang bukan siapa-siapa, tetapi insya Allah, mereka tidak
tumbuh menjadi preman, kalau saja ada yang peduli.

Mungkin,
kita bisa berkontribusi, setidaknya agar anak-anak berbau matahari itu
bisa tetap belajar dan cinta buku, sebagai bekal masa depannya, seperti
si kecil Waliyan. Mungkin mereka masih akan tetap berbau matahari tiap
pagi, tapi semoga masih ada harapan, bau itu adalah bau yang sehat dan
mendorong mereka ‘belajar’ tentang kehidupan dan menjadi lebih kuat,
karena ada orang dewasa yang mengarahkan mereka dengan nilai-nilai yang
mendidik.

Azimah Rahayu

(@az, terkenang waliyan yang ganteng)

August 15th, 2005

Mujahid Ngampar

Posted by mmbanget in made by others
Publikasi: 01/06/2004 08:40 WIB

"A, ini ada surat dari saya, tapi jangan dibuka, nanti saja dibacanya setelah Aa tiba di Bandung."

Demikian
ucapan yang diucapkan teman saya, mengutip ucapan istrinya yang saat
ini sedang ada di Tangerang di rumah orang tuanya, mengawali
perbincangannya dengan saya beberapa hari yang lalu, ketika kami
bertemu di acara kajian rutin pekanan.

Maka setelah di Bandung,
dibacalah surat tersebut yang merupakan surat dari istrinya yang sedang
menunggu saat-saat kelahiran anak pertama mereka.

"A, bila Allah
menakdirkan saya meninggal pada saat melahirkan nanti, saya rela
meninggalkan dunia ini asal anak kita selamat. A, bila saya meninggal
nanti, titip anak kita, jaga dia dengan baik," demikian salah satu isi
surat dari istrinya itu.

Maka menangislah si Aa tadi setelah
membaca surat dari istrinya. Air mata seorang lelaki, air mata seorang
suami, air mata seorang calon bapak yang sedang menunggu dengan
harap-harap cemas akan kelahiran anak pertamanya, akan keselamatan
istri tercintanya yang baru satu tahun dia nikahi. Karena dia tahu
bahwa proses kelahiran anak pertama adalah sangat beresiko, bahkan
setiap proses melahirkan anak, nyawa ibu dan bayi adalah taruhannya

Demikian
sekelumit cerita dari teman saya, ketika akhirnya dia bercerita tentang
kondisi terakhir dirinya. Sangat terharu saya mendengar ceritanya. Saya
bisa membayangkan bagaimana kalau saya menjadi dia, walaupun saya belum
pernah menikah.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Akhi…
sekarang saya sedang berusaha mencari tambahan uang, untuk biaya
persalinan istri saya nanti. Sekarang saya beralih sementara berjualan
kantong kresek, mengedarkan ke toko-toko kecil. Alhamdulillah
kelihatannya cukup prospektif, walaupun belum laku banyak," ungkapnya.

"Mmm…," guman saya dalam hati.

Yang
saya tahu bahwa dia berprofesi sebagai pedagang keliling, berjualan
dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu emperan jalan ke emperan
jalan lainnya, dari satu emperan masjid ke emperan masjid lainnya,
dengan menghamparkan tikar dan kemudian menggelar barang dagangannya.

Dia cukup senang ketika kami memanggilnya dengan sebutan "Mujahid Ngampar".

Pahamlah
saya kemudian bahwa dia sedang kesulitan mencari bekal buat persalinan
istrinya yang tinggal dalam hitungan hari. Pahamlah saya kemudian
ketika beberapa waktu yang lalu dia menawar-nawarkan VCD Player
bututnya pada kami. Pahamlah kemudian saya ketika dia menawar-nawarkan
topi rimba-nya, yang kemudian saya beli dengan harga 5.000 perak.
Pahamlah kemudian saya bahwa itu semua dilakukannya untuk mengumpulkan
bekal buat persalinan istrinya, di samping tentunya untuk menyambung
hidupnya sekeluarga, walaupun untuk makan ala kadarnya.

"Ya Allah, sungguh Engkau telah memberikan pelajaran berharga bagi saya lewat cerita teman saya ini."

Terkadang
saya merasa paling menderita ketika tidak makan 3 kali sehari, padahal
baginya makan roti seharga 500 perak sehari sekali adalah hal yang
lumrah . Terkadang saya merasa susah hati ketika tidur bantalnya
sedikit tidak empuk, padahal dia tidur di mesjid beralaskan lantai yang
dingin sangatlah sering.

Kadang saya merasa bangga sudah
berdakwah dengan mengirimkan SMS berisi penggalan Hadist atau kutipan
ayat al-Qur’an, yang belum tentu sudah saya amalkan. Padahal dia,
kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk berdakwah secara real di
masyarakat, bahkan cukup banyak dia memiliki binaan dakwah, padalah
usianya masih cukup muda, 23 tahun.

Kadang saya… ahhhh… malu rasanya untuk mengungkapkan semuanya.

Ya
Allah… Saya takut kenikmatan yang Engkau berikan saat ini adalah
untuk membalas sedikit amal yang pernah saya lakukan, dan di kemudian
hari ketika nyawa ini dicabut, sudah impas, tidak memiliki amal
kebaikan, hanya setumpuk dosa yang saya bawa sebagai beban di kemudian
hari nanti.

Astagfirullah… Ya Allah, ampunillah dosaku.

Sangat
mungkin kondisi teman saya tadi adalah cara Allah untuk menghapus
dosanya, sehingga kemudian ketika dia meninggal nanti, dia sudah tidak
punya dosa lagi, hanya tumpukkan amal kebaikan yang dia bawa nanti.
Allahu a’lam

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan
kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan
kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami;
ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Al Baqarah-286) (ish)

~ IdE ~
a_hadiana at yahoo dot com.

(untuk
seorang al-Akh, saudaraku… yang sedang menunggu kehadiran buah hati
pertamanya, semoga Allah melancarkan proses kelahiran anaknya,
menyelamatkan istri dan anaknya)

http://eramuslim.com/ar/oa/46/10627,1,v.html