Ayat-Ayat Cinta by Habiburrahman El Shirazy
Dulu sering ngeliat buku ini dicantumin jadi fave book nya temen2 di FS.. juga waktu ngobrol ma temen2 in real life..
Dan ternyata..
ternyata… buku ini baguuusss banggeett… (komentar dari saya seorang yang jarang suka baca buku..)..
salah satu efeknya, begitu saya baca.. saya gak mau brenti.. semalem langsung saya abisin.. sambil sesekali hati ini menangis..
Ya.. saya suka buku ini.. karena telah mampu menyentil hati dan membuatnya menangis..
meratapi kemalasan diri ini..
meratapi.. kelupaan diri ini kepada nilai2 yang begitu indah..
meratapi.. diri ini yang tak lagi sama.. tak lagi ikhlas..
Buku ini mengajarkan keteguhan hati.. tekat yang bulat.. akhlak yang baik..
buku ini juga mengajarkan tentang cinta.. yakni cinta yang tulus ikhlas.. berlandaskan cinta kepada Sang Khalik.. cinta yang begitu agung dan terlalu indah untuk dikotori..
buku ini juga mengajarkan kesetiaan kepada prinsip yang diyakini dan kepada cinta yang ada..
dan satu yang pasti, buku ini membuat saya ingin kuliah di Mesir.. bumi para nabi.. agar jiwa ini kembali terisi ghirah yang ikhlas dan tak dibuat-buat..
berikut salah satu kutipan dari buku ini yang mampu membuat saya menangis.. karena telah menyentil hati akan kekosongan jiwa dari nilai2 yang begitu mulia..
………………..
”
Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.
Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat Zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya.
”
……………………….